Pengumpan:
Tulisan
Komentar

41 hari setelah itu,,

Alhamdulillah :)

Alhamdulillah :)

Polandia Part 1

Inisiasi

Jum’at, 2 Juli 2010. Jam enam pagi. Aku kembali memastikan barang bawaan di dalam koper dan tas punggungku. Sampo, pasta gigi, celana, sepatu, syal, kaos kaki, paspor, invitation letter. OK, komplit.
Saatnya berangkat ke kampus, berkumpul dengan teman-teman yang lain. Kebetulan hari ini perjalanan kami ke Jakarta tidak sendiri, tapi bersama juga dengan tim Elves yang akan berlaga di Inaicta (sampai tulisan ini dibuat, mereka sudah masuk lima besar. Good job kawan!). Setelah berpamitan kepada beberapa orang termasuk mentor kami yang tak ikut, Chandradimuka-ers segera masuk ke mobil L300 yang telah menemani kampus kami sejak tahun 2000. Koper masuk, aku duduk di depan. Di samping pak sopir yang sedang bekerja (lagu apa ya? =D ). Selama perjalanan, tim kami lebih banyak diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Antri dong mas,,

Jam 12, hari yang sama. Bandara Soekarno-Hatta, gateway 2D. Bertemu dengan beberapa anggota tim Ganesh dan Tselina dari ITB. Sekarang, waktunya berpisah dengan dosen-dosen yang ikut mendampingi mengantar. Disinilah kemandirian kami dimulai. Pendamping kami ya kami sendiri. Dimulai dengan mengantri di tempat penimbangan koper dan pengambilan tiket. Setahuku, tiap koper maksimal memiliki berat 20 Kg untuk diijinkan masuk ke dalam bagasi pesawat. Sempat khawatir juga melihat koperku yang menggelembung, apakah beratnya melewati batas yang diijinkan atau tidak. Setelah ditimbang, ternyata hanya 17 sekian Kg. Alhamdulillah, lewat. Lalu menuju ke bagian Imigrasi, untuk distempel paspor dan visanya. Plus mengambil kartu keberangkatan dan kepulangan berwarna pink. Ternyata uantri,,ya sudahlah, tak apa. Ternyata orang Indonesia banyak yang mau keluar negeri. Kaya dong. Setelah mengantri beberapa saat, tibalah giliran rombongan kami. Temen-temen yang putri melewati bagian ini tanpa masalah. Kemudian giliranku. Ketika maju menghadap mas-mas yang bertugas, terdengarlah “antri dong mas!”. Lha? Ternyata ada mbak-mbak yang sedang mengisi suatu formulir di meja itu. Kirain gak masalah. Lha wong mbaknya dari tadi sudah di situ. Kirain dah beres. Ternyata masnya berpikiran lain, ya sudah, aku mundur lagi. Mas-mas yang aneh, kataku dalam hati, hehehe. Setelah selesai di bagian ini, sekarang saatnya pemeriksaan barang bawaan. Tas diperiksa. Ok. Sekarang yang punya tas diperiksa. Tet!!!!! Waduh, kenapa nih?O,, ternyata ikat pinggangku yang berkepala  besi yang menyebabkan alarm ini berteriak. Akhirnya dilepaslah ikat pinggang itu, dilewatkan ke papan berjalan. Tips bagi teman-teman yang akan melakukan perjalana dengan pesawat, pakailah ikat pinggang dan sepatu yang semuanya dari karet atau bahan non besi lainnya, biar gak repot-repot di bagian pemeriksaan. Sebenernya tak mengapa, hanya repot saja kalau harus copot-copot barang tersebut. OK, beres, saatnya memasuki pesawat Cathay Pacific, tujuan Hong Kong. Inilah permulaan perjalanan panjang kami ke negerinya Frederick Chopin, Polandia.
Antara Hong Kong  dan Heathrow

Dari Indonesia ke Hongkong, ditempuh dalam waktu empat jam. Dari udara, bagian Hong Kong yang kami lihat ini  benar-benar bermandikan cahaya. Ada gedung, kapal, jembatan layang, lampu penerangan jalan, rumah-rumah penduduk, restoran, polisi, jalan kampung, poskamling, tukang sayur, penjual gorengan, ojek, blablabla (tebak aja sendiri sampai bagian mana yang bener.Hehehe). Semuanya serba terang benderang dengan lampu aneka warna. Kota yang semarak. Di bandara Hongkong inilah kami sejenak melepas lelah setelah sekitar empat jam duduk di pesawat yang membawa kami menjauh dari Indonesia.
Untung ada wifi gratis. Jadilah kami mengupdate status masing-masing.

.: Papan Informasi Penerbangan (Kita pake BA026) :.

Sekedar memberi tahu keadaan kami saat itu. Sembari menikmati suasana bandara yang masih saja sibuk malam itu, kami mengobrol dan mulai akrab dengan rombongan lain dari Indonesia juga. Temen-temen UI dan ITB. Tak lama berselang, kami memasuki badan bongsor pesawat British Airways, menuju Heathrow, London.

.: wifi-an di bandara Hong Kong :.

Andai Sekarang Aku Punya Yang Belakang Itu,,

Hong Kong – Heathrow. Kali ini perjalan lebih lama, belasan jam. Matahari baru saja terbit ketika kami tiba di Heathrow. Bandara masih sepi, loket-loket juga belum buka. Tampak petugas kebersihan bandara memulai kegiatannya pagi ini. Masih terbawa kantuk dan tas punggung yang terasa bertambah berat, kami selusuri jalan-jalan dalam bandara. Suasana yang berbeda benar-benar terasa. Sepi, asing, kagum. Setelah menunggu loket buka, sama seperti sebelum-sebelumnya, kami melewati bagian pemeriksaan. Ikat pinggang sudah  kulepas. Yakin tak akan ada masalah kali ini. Tet!!! Apaaaaalagi nih? O..ternyata di kantong ada semacam kancing dari besi yang menempel dengan simbol merek celanaku. Nice! Perasaan di bandara-bandara sebelumnya gak masalah. Di sini mungkin lebih ketat, makanya si alarm teriak-teriak lagi. Kedudukan sekarang 2 – 0 untuk alarm dan saya. Setelah lepas dari jeratan bagian keamanan, kami memasuki bagian bandara yang seperti mal. Nampak deretan toko makanan, baju, wine, coklat dan restoran dengan kesibukan masing-masing.  Ya, bandara mulai ramai. Di sela-sela beradaptasi jadi turis(wekekeke), kamera mulai unjuk gigi. Jadilah foto-foto di bawah ini.

.: Andai Sekarang Aku Punya Yang Belakang Itu ,hehe :.

This Is My Year

Setelah sebelumnya dipersilahkan oleh mbak-mbak petugas bandara yang ternyata suaminya orang Samarinda dan bisa bahasa Indonesia shedikhet-shedikhet dan diberi ucapan good luck setelah aku jelaskan bahwa ini rombongan dari Indonesia yang akan berlaga di kompetisi Microsoft Imagine Cup, kami memasuki terowongan menuju British Airways lain yang akan menerbangkan kami ke Warsawa. Tak seperti sebelumnya, saat itu kami disambut pramugari yang lumayan berumur. Semakin menambah lelah pagi ini. Hehehe. Warsaw Frederick Chopin Airport. Ya, kami akhirnya mencatatkan diri sebagai turis di sini, di Polandia. Sempat terkaget-kaget sebelumnya karena begitu keluar dari pesawat, suasananya suangat sepi. Tak layak kalau itu disebut sebagai bandara. Benar-benar sepi. Agak lama kami tertahan di bagian imigrasi bandara ini, karena petugasnya mengecek berbagai dokumen mulai dari paspor, invitation letter dan  keterangan telah dipesankan kamar di hotel. Setelah beberapa orang dari tim Indonesia lolos dari pemeriksaan, anggota lain yang masih tersisa menjadi dipercepat prosesnya. Mungkin petugasnya bosen lihat invitation letter yang sama dan logo Novotel yang sama juga. Ya iyalah, lha wong rombongan.

SMBB Institut Teknologi Telkom

kedua

kedua

ketiga

ketiga

empat

empat

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.