Memenuhi Panggilan Tuhan (Bagian 3)

Akhirnya setelah sekira 12 jam perjalanan, tibalah kami di Bandara Madinah. Alhamdulillah!!! Semakin mendekat ke inti panggilan. Dari cerita paman, rute haji kali ini baru buat beliau. Dulu jama’ah haji diturunkan di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Untuk kemudian baru diangkut ke Madinah atau Makkah, tergantung jatah masing-masing. Bandara ini juga sepertinya baru beberapa tahun ini digunakan. Kami tiba jam 4 waktu setempat. Sambil menunggu antrian cek paspor, kami istirahat sembari piknik kecil-kecilan melihat-lihat isi bandara.

Atas - bawah : Nama Bandara; Duduk menunggu antrian

Hingga tibalah saatnya mengantri untuk cek paspor bagi jama’ah Indonesia. Karena lumayan banyak, antrian pun mengular panjang. Lumayan melelahkan bagi orang tua untuk berdiri dalam jangka waktu lama sembari membawa ‘gembolan’ barang bawaan. Melihat hal ini, paman saya yang kebetulan ketua rombongan sekaligus ketua kloter berinisiatif untuk mendahulukan orang tua-orang tua meskipun antriannya di belakang. Yang membuat lama adalah ada periksa (atau rekam ya, kurang tau saya) sidik jari. Dimana kadang orang harus beberapa kali mengulang menempelkan jarinya ke mesin karena ada masalah. Dan juga jari yang ditempelkan ada beberapa, dari tangan kanan dan kiri pula😀

Setelah beberapa lama berjalan, ternyata ada jama’ah yang sepertinya tidak rela kalau antriannya berdasarkan umur, bukan tempat. Jadilah dia sedikit komplain ke paman saya dan setelah berdiskusi beberapa lama, paman saya mempersilahkan untuk antrian sesuai tempat lagi. Karena yang orang tua juga sudah banyak berkurang. Saat bapak-bapak yang komplain tadi maju ke meja periksa, petugas beberapa kali melihat dokumen paspornya. Agak lama dari jama’ah yang lain, ternyata ada kesalahan di stiker yang tertempel di paspor, entah stiker soal apa. Setelah diurus oleh petugas yang ada, selesai jua lah pemeriksaan untuk bapak tadi. Paman saya sempat nyeletuk, “tuh balesan gara-gara tadi gak terima antriannya dilewatin sama orang tua-orang tua”😀. Saya sih hanya senyum-senyum aja.

AntrianBeberapa saat setelah itu, ada juga jama’ah yang nyantol lama di bagian petugas. Sigh,,,apaa lagi ini masalahnya. Eee tiba-tiba muncul bapak-bapak yang komplain ke paman saya itu, menghampiri petugas. Dan menanyakan permasalahannya dengan bahasa Arab yang fasih. Dan seleseai lah perkara. Saya hanya senyum-senyuma aja ke paman saya, haha. Kan sudah dibilangin, gak boleh gampang komentar di negeri ini. Setelah itu alhamdulillah kebanyakan jama’ah lancar-lancar saja. Yang gak lancar justru paman saya yang membantu mengatur antrian orang tua tadi. Dia malah ditahan agak lama di meja petugas. Kebetulan beliau diperiksa paling akhir. Jadilah kami menunggui beliau sampai selesai. Ternyata,, sedari tadi si petugas memperhatikan apa yang dilakukan paman saya. Dan kemudian mengacungkan dua jempol jarinya. Sambil ketawa-ketiwi dan berkata dalam bahasa arab, entah apa yang dikatakan. Intinya sih salut sama inisiatif paman saya tadi. Paman saya yang gak paham bahasa Arab pun ikut ketawa-ketiwi dan bercanda gak jelas sama si petugas. Sampai peluk-pelukan segala. Haha,,sekali lagi. Jangan banyak komentar di sini.

Lepas dari meja petugas, kami keluar dari (sepertinya) bangunan inti bandara, menuju ke bagian yang dikhususkan untuk haji. Lumayan sih jalannya, tapi itung-itung refresinglah lihat-lihat interior bandara yang wow buat kami. Keluar dari bangunan utama, kami langsung diterpa udara gurun yang puanas bingit. Apalagi setelah dari ruangan ber-AC. Untungnya di hall yang diperuntukkan untuk haji ada AC-nya juga. Di hall ini kami hanya duduk-duduk sembari menunggu bus yang akan membawa kami ke Kota Madinah siap.

Menunggu pemberangkatanUntuk jama’ah yang memakai kursi roda, bandara menyediakan petugas yang akan membantu mendorongkan hingga ke hall. Gratis sebenarnya, tapi seperti kebudayaan orang Indonesia pada umumnya, kurang sreg kalo gak ngasih tips. Di hall gak banyak yang dilakukan sih. Karena gak terlalu luas juga bangunannya. Di sini ada toilet dan kran air minum. Nah,,soal kran air ini. Langsung ada yang nyeletuk,,”wah zam-zam. Buruan ambil”, haha. Padahal gak semua kran air minum itu isinya air zam-zam sih. Cuma sugestinya orang Indonesia kalau sudah sampai di Madinah atau Makah pasti menganggap kran air yang ada isinya selalu air zam-zam🙂

Kini bus-bus sudah siap. Tas tenteng juga sudah ditempatkan di bagasi. Untuk tas koper, memang tidak berbarengan dengan bus jama’ah. Akan diangkut menggunakan truk terpisah. Setelah dipersilahkan oleh petugas untuk memasuki bus, jama’ah mulai bergerak naik. Ternyata kursi di bus lebih sedikit dari jumlah jama’ah yang diangkut. Jadilah beberapa diantara jama’ah laki-laki harus rela berdiri, sedangkan jama’ah wanita semuanya mendapat tempat duduk.

Searah Jarum Jam dari kiri atas : Bus-bus yang siap berangkat; Suasana di dalam bus (1); Suasana di dalam bus (2); Petugas yang mengaturBus mulai bergerak meninggalkan bandara, dengan tujuan kompleks Masjid Nabawi. Perjalan memakan waktu sekitar 2 jam singat saya. Lumayan juga berdiri sebegitu lama😀 Namun semuanya berganti dengan  rasa bahagia kembali, ketika dari jauh mulai nampak menara-menara masjid Nabawi. Dan kebetulan saat memasuki kota Madinah sudah memasuki malam. Jadilah pendar cahaya kompleks Masjid Nabawi terlihat dari jauh. Subhanallah,,orang pasti akan terkagum melihat tempat ini.

Namun rasa ingin segera mendekati cahaya itu harus tertahan beberapa waktu.  Setelah tiba di hotel, kesibukan pertama adalah mencari tas koper yang sudah sampai. Jadi, kan tadi tas kopernya diberangkatkan terpisah. Ketika sampai hotel, petugas pun hanya menaikkan koper dari lantai bawah ke lantai yang diperkirakan rombongan yang dimaksud menginap. Kok gitu? Iya. Misal untuk lantai 1 sampai 3, dihuni oleh rombongan dari Jawa Tengah. Maka koper-koper dengan identitas rombongan Jawa Tengah akan diletakkan di lantai 1 atau lantai 2 atau lantai 3. Jika Anda tinggal di lantai 1, maka kemungkinan koper Anda berada di lantai tempat Anda tinggal adalah 25 %, bahkan bisa lebih kecil lagi. Karena bisa jadi kopernya masih di lantai bawah, lantai 2, lantai 3 atau lantai lainnya😀 Jadilah waktu itu kami riweuh nyari koper-koper yang bertebaran entah dimana itu. Kami sekeluarga bagi tugas. Yang wanita disuruh nunggu saja di kamar, yang laki-laki blusukan naik turun nyari kopernya. Dan ketika ketemu, karena liftnya penuh oleh jama’ah lain yang juga blusukan, kami pun harus naik lewat tangga darurat. Dan itu berat jenderalll. Untung dapat kamar di lantai 6. Lumayan lah dibandingkan yang ada di lantai 9.

Mencari KoperLumayan lama lho drama nyari-nyari koper ini. Apalagi karena belum hafal lingkungan hotel, jadi kadang ada koridor yang belum dilewati, padahal kopernya ada di situ. Setelah beres dengan urusan koper, acara selanjutnya adalah makan malam. Alhamdulillah sudah ada jatah makan malam dari pemerintah. Lauknya saat itu ikan tongkol (?) dan sayur buncis. Ternyata mitos kalo di sini makan daging pasti porsinya gede-gede itu benar adanya. Daging ikan yang kami dapat termasuk besar untuk ukuran orang Indonesia. Tapi rasanya hambar. Jadilah kami mengeluarkan jurus abon dan bawang goreng😀 Paket makan yang diberi pasti terdiri dari makan besar, buah, dan minuman. Sehat lah pokoknya. Lauk, jenis buah, dan jenis minuman akan selalu bervariasi. Variasinya gak banyak sih, sekitar tiga lah. Jadi ya variasinya muter-muter di tiga jenis itu saja😀

Jatah makanSetelah istirahat sebentar kemudian mandi, seorang paman saya mengajaki untuk nengok Masjid Nabawi malam itu juga. Walaupun agak ngantuk, tapi rasa penasaran ini lebih kuat. Jadilah saya berangkat bertiga dengan sepupu saya. Hmm,,gimana kesan pertama kali melihat Masjid Nabawi? Nanti saya ceritakan di bagian berikutnya saja ya, hehe. Sekian.

Memenuhi Panggilan Tuhan (Bagian 2)

Mohon maaf atas kelanjutan cerita yang terpaut lama dari bagian pertamanya. Bukan apa-apa sih. Penyebabnya saya masih sering terbawa suasana kalau mengingat-ingat pengalaman haji kemarin. Terlebih ketika lihat foto-fotonya😐 . Tapi sepertinya akan lebih baik kalau saya paksa teruskan😀. Semoga bisa rajin bersambung hingga akhir.

Untuk cerita bagian pertama, silahkan di baca di sini.

Kali ini saya akan bercerita mengenai detik-detik pemberangkatan. Saya tergabung dalam kloter (kelompok terbang) 33 SOC. Kloter ini berisi rombongan dari Wonosobo dan Temanggung. Sekitar 450an orang totalnya. Kloter ini dijadwalkan terbang pada tanggal 2 September 2015 dari Bandara Adi Sumarmo, Solo. Untuk barang bawaan, dari pihak maskapai hanya membatasi tiga jenis tas bagi jama’ah. Satu buah tas koper, satu buah tas jinjing, dan satu buah tas paspor. Tas koper sudah diserahkan ke Kemenag seminggu sebelum pemberangkatan. Isinya apa? Kalau punya saya (dan sebagian besar keluarga saya), gak jauh-jauh dari pakaian dan makanan. Kain ihrom dan sebagian besar pakaian ada di tas ini. Saya bawa beras pakai jerigen. Ada bawa biji kacang hijau juga. Kemudian yang pasti gak kelewat adalah mie instan. Bumbu kacang, bawang goreng, terasi, energen😀, ikan asin, abon, gula pasir juga tak luput dimasukkan oleh ibu saya ke koper. Iya, ibu saya yang menata semuanya. Bukannya saya gak mau bantu, tapi sampai menjelang batas waktu koper diserahkan ke Kemenag, saya masih di luar kota😀 Awalnya saya agak parno dengan isi-isinya. Ngapain coba bawa beras. Mie instan juga. Kan bisa beli di sana. Dan pada akhirnya saya menyadari kenapa hal ini penting. Singkatnya, karena di Arab sana dua barang itu (juga barang lainnya) mahal. Kalau kebutuhan yang insidentil sih tak mengapa ya. Nah kalau kebutuhan yang tiap hari harus ada dan beli terus, bisa-bisa saya gak beli oleh-oleh di sana (ini bukti kalau saya juga beli oleh-oleh di Arab, haha).

Isi koper
Isi koper

Pengalaman dari mereka yang sudah haji, karena kopernya sama persis dari maskapai, jadi sering tertukar oleh yang lain. Makanya sering ktia jumpai koper dari jama’ah Indonesia itu warna-warni dan heboh. Seperti punya saya. Selain dibungkus jaring tali dan di-pilox, di beberapa bagian sudah ditempel menggunakan pita kain besar dengan warna yang mencolok. Pada satu bagian juga sudah ditempel dengan foto (yang sudah dilapisi lakban tentunya, biar gak lepas). Waktu itu saya tambahin tempelan menggunakan scotlet pantul juga biar terlihat bling-bling dari jauh😀 Hanya saja dalam proses kreatifitas ini jangan sampai menutupi logo maskapai dan logo kemenag ya.

Koper spiderman
Koper spiderman

Rombongan Wonosobo sendiri dilepas dari pemerintah daerah pada tanggal 1 September dini hari. Umumnya hidup di desa, pemberangkatan haji merupakan salah satu acara yang membuat rakyatnya heboh sendiri😀 Saya kan ceritanya berangkat bersama keluarga besar, total ada dua belas orang. Kebetulan juga mayoritas dari dua belas orang ini tinggal berdekatan. Nah di desa kami biasanya ada acara pelepasan rombongan haji oleh masyarakat. Jadilah saat itu kami sebelum ke pendopo kabupaten, menghadiri dulu acara di desa. Acara dilangsungkan di masjid desa, dengan mengundang masyarakat sekitar. Ternyata banyak juga yang hadir. Dan itu adalah jam 2 PAGI!! Wow. Nikmatnya hidup di desa ya gini ini, masyarakatnya masih belum ansos, haha. Setelah sebelumnya diwarnai drama🙂 tangis-tangisan di rumah, sekarang ditambah lagi drama peluk-pelukan dengan masyarakat desa. Salut lah dengan rekatnya kekeluargaan di masyarakat.

Skip.

Tibalah kami di pendopo kabupaten. Di sini ada acara pelepasan oleh pemda. Kalau dari Wonosobo sendiri ada sekitar 300 orang, terbagi dalam 8 bus. Bus berangkat sekitar jam 3, dan akan menempuh perjalanan selama 4 jam sebelum akhirnya tiba di pemondokan haji Donohudan, Solo. Di dalam bus kami diberi jejanan dan sarapan. Mengenai hal ini, katanya bisa beda-beda tiap rombongan. Tergantung dengan KBIH-nya. Maksud saya, dari pemerintah tidak menyediakan ransum selama perjalanan. Alhamdulillah KBIH yang saya gunakan sudah menyediakan makanan. Suka lah saya sama KBIH ini. Para pembimbingnya sangat peduli dengan jama’ahnya. Pun saat pemberangkatan mereka masih menyertai baik di kabupaten maupun hingga ke Donohudan. Dan di jalan mereka menyediakan mobil ambulans yang ikut sampai ke Donohudan. Sebagai tambahan saja, jika sampeyan ada keluarga yang mau ikut sampai pemondokan, mending disarankan untuk cukup mengantarkan sampai kabupaten saja. Karena di pemondokan akan susah untuk bertemu (walaupun bisa), dan lebih baik digunakan para jama’ah untuk istirahat saja.

Bilik pengantar
Bilik pengunjung

Sampai di Donohudan sekitar jam 8 pagi. Kami dikumpulkan terlebih dahulu di aula, sambil menunggu rombongan dari Temanggung yang saat itu belum sampai. Acara pagi ini adalah sambutan (pasti, haha), penjelasan kegiatan di pemondokan, dan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan hanya tensi saja sih kebanyakan. Setelah itu diberi paket obat yang terdiri dari oralit, salep untuk pegel-pegel, segepok masker, dan beberapa obat lainnya. Ini obat yang standar. Ada beberapa tambahan obat juga sebenernya, tapi tergantung dari diagnosis dokter saat itu. Alhamdulillah saya gak dapet tambahan obat B-) . Selesai pembagian obat, jama’ah diarahkan untuk beristrahat di ruangan yang telah disediakan. Di sini sudah mulai terasa hajinya nih. Satu kamar diisi banyakan, ada delapan orang tiap kamar. Di sini juga mulai bersosialisasi dengan anggota yang lain. Saya maksudnya, karena dulu jarang ikut latihan manasik di KBIH jadi banyak yang belum kenal betul :p

Ambil obat
Ambil obat
Kamar
Kamar
Keluarga saya
Keluarga saya

Di dalam asrama ini, ternyata ada toko perlengkapan haji dan oleh-oleh juga. Tokonya terpusat di salah satu aula. Lumayan komplit juga, mulai dari celana haji, kantung kerikil, mukena, kurma, kacang-kacang, permen coklat, sajadah, sampai sikat gigi. Nah yang menarik adalah sistem pembayarannya. Jika sampeyan beli oleh-oleh di sini, kemudian dalam jumlah besar misalnya, tak perlu repot membayar lunas semua pesanannya. Cukup pilih barang, bayar DP (beberapa bahkan boleh gak DP sama sekali), kemudian sampeyan simpen deh itu notanya. Pedagang hanya meminta identitas nama, kloter berapa, dan rombingan berapa. Barang akan ditata oleh pedagangnya, dan akan diberikan ketika nanti sepulang dari haji. Karena saat pulang dari haji akan tetap mampir ke asrama ini, tapi hanya sebentar dan tidak menginap. Pengalaman saya, ketika mengambil oleh-oleh kita tidak perlu repot masuk ke toko lagi (yang agak jauh dari aula depan). Karena barang sudah disiapkan di dekat bus kita. Tinggal cari aja perwakilan toko dan bayar deh sisa kekurangan kita. O iya, kita bisa juga nitip barang biar dijadikan satu paket sama pesenan kita lho. Waktu itu saya nuker-nuker poin dari provider seluler dan dapet dua buah tumblr. Karena saya pikir hanya memperberat bawaan, jadilah saya titipkan ke pedagangnya. Beres. Pertanyaannya adalah,,jadi saya beli oleh-olehnya di Solo??? Hmm…beberapa iya, hehe. Tenang, saya beli yang umum-umum doang kok. Yang khas tetap asli dibawa dari Arab, walaupun kebanyakan made in China😐

Aula oleh-oleh
Aula oleh-oleh

Malamnya lebih banyak diisi dengan acara memastikan kembali barang-barang bawaan. Ada beberapa barang yang disarankan untuk tidak dibawa, seperti : botol bertekanan (aerosol), benda tajam (pisau, gunting), palu, tang, dan barang larangan penerbangan standar lainnya. Pada suatu masa ketika di Madinah, saya terpana dengan bawan paman saya. Jadi ceritanya waktu itu kami perlu bikin jemuran pakaian darurat di penginapan. Di dalam kamar mandi memang ada bagian buat jemuran kecil-kecilan. Tapi karena satu kamar diisi banyak orang, maka tetap saja tidak cukup. Sebenarnya beberapa penginapan memiliki tempat jemuran di bagian paling atas gedungnya. Penginapan saya waktu itu punya bagian ini juga sih. Tapi kurang luas karena bercampur dengan pipa-pipa besar (entah pipa apa). Pun kalau hanya menjemur handuk sepertinya akan menghabiskan kalau bolak-balik naik turun lantai. Nah,,saat itu saya dan paman-paman saya sedang berdiskusi dimana enaknya bikin jemuran dan menggunakan apa. Karena paman saya pernah naik haji sebelumnya, dia pun lebih sigap. Sudah bawa tali (tambang) dari rumah🙂. Yang bikin bingung adalah di mana tali itu akan dikaitkan. Lihat ke sana kemari tidak ada bagian dari tembok yang bisa jadi pengait. Dengan santainya akhirnya salah satu paman saya menghampiri kopernya dan mengeluarkan palu dan paku, wkwkwk. Ini kok bisa lolos?? Kata beliau, dia memang membawa benda itu dan diletakkan di dalam koper dengan dililit-lilit pakaian dan plastik.

Kembali ke kegiatan malam sebelum pemberangkatan. Selain menyiapkan kembali barang-barang bawaan, ada kesibukan lain yaitu pembagian perlengkapan haji. Perlengkapan yang dimaksud berupa pembagian dokumen-dokumen yang akan diperlukan, gelang haji, uang living cost. Soal uang living cost ini, merupakan pengembalian sebagian dari dana haji yang sudah dibayarkan. Berapa banyak? Lumayan lho, 1500 Riyal, setara 6 jutaan kurang sedikit lah dengan kurs waktu itu. Jadi,,murah kan haji itu? Dari 33 juta yang dibayarkan, 6 juta-nya kembali ke kita. Bebas pula penggunaannya. Bandingkan dengan kalau beli mobil / jalan-jalan ke luar negeri. Yang barusan tidak wajib. Haji pun tidak wajib, selama sampeyan merasa mampu beli mobil dan jalan-jalan ke luar negeri tapi merasa gak mampu bayar haji yang cuman sekian juta :p

Living cost
Living cost
Gelang identitas jamaah
Gelang identitas jamaah
Berkas
Berkas

 

 

 

 

 

 

 

Tidur.

Setelah sholat subuh, keriweuhan mulai lagi. Semua berkemas. Persiapan untuk memulai perjalanan panjang. Dari pengumuman petugas, jamaah akan dikumpulkan di ruang aula utama. Akan ada pengarahan mengenai penerbangan yang akan dilakukan. Di sini ada pemeriksaan barang bawaan juga. Untuk tas tenteng, akan melewati conveyor yang masuk ke kotak sinar X, seperti di bandara-bandara. Gak karuan rasanya waktu itu. Deg-degan cemas campur excited.

Akhirnya.

Kami tiba di bandara Adi Sumarmo. Setelah dadah-dadahan dengan orang di pinggir jalan yang keluar karena mendengar sirine dari polisi pengawal dan terlebih karena mengetahui yang lewat adalah jamaah calon haji. Walaupun gak kenal, tapi ada rasa yang sepertinya kami semua sepakati. Kami seolah-olah mohon ijin pamit, dan mereka pun membalas dengan lambaian selamat jalan. Ah,,semoga kita semua berkesempatan untuk mengunjungi Baitullah.

Di bandara, bus pengantar langsung masuk ke landasan di mana pesawat diparkirkan. Sudah ada beberapa petugas yang berjaga di sepanjang jalan ketika turun dari bus hingga menaiki tangga pesawat. Mereka membantu mengangkatkan barang bawaan jamaah dan mendorong jamaah yang berkursi roda. Siapapun kalian,,saya ucapkan terima kasih. Walaupun saya membawa sendiri tas tenteng saya, haha.

Tempat duduk di pesawat sudah ditentukan oleh petugas. Dan di tas paspor ditempelkan nomer urut tempat duduk ini. Jadi tak perlu berebut macam naik metro mini. Namun saat itu ada saja jamaah yang buru-buru naik. Ternyata dia gak kuat kelamaan berdiri, ingin segera duduk. Oalahh.

Kini semua penumpang sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Kapten pesawat mulai menyapa kami dan menjelaskan beberapa hal melalui pengeras suara. Hati ini makin gak karuan. Lalu perlahan pesawat pun bergerak. Kami dipimpin untuk membaca do’a bepergian. Makin kacau hati ini. Tinggal landas. Dan sebagian dari kami pun terisak.

Garuda <3
Garuda❤

 

 

Motor saya berulang-lima-tahun di rantau

Beberapa hari lalu saya menyempatkan diri ke Samsat Polda Metro Jaya karena motor saya berulang-lima-tahun😀 . Kebetulan nomornya masih nomor daerah. Jadi alih-alih hanya mengirimkan STNK ke rumah untuk diperpanjang, saya terpaksa harus mencari tambahan gesekan nomor rangka. Setelah baca-baca cerita orang mengenai prosedur pengurusannya, saya mantapkan hari itu untuk berangkat ke Samsat dan mengurus semuanya (halah).

Berangkat dari kosan sekitar pukul 06.30 pagi, dengan perut yang masih kosong. Saya menyusuri jalanan dari Cawang hingga ke Gatot Subroto (Gatsu). Jadi si samsat ini letaknya di lingkungan Polda Metro Jaya. Karena belum pernah masuk ke sana (ngapain juga masuk😀 ), maka saya cari tau dulu lokasi dan jalan masuknya. Dari artikel-artikel yang saya baca, pokoknya masuknya dari sebelah gedung Mandiri yang di Gatsu. Yasudahlah, itu yang jadi patokan saya. Dan memang benar sih. Jadi di sebelah gedung Mandiri itu ada jalan masuk ke kawasan SCBD. Ikuti saja jalan itu, sampai nanti ada putaran balik. Putar baliklah, lalu nanti cari pintu masuk ke polda di sebelah kiri jalan. Yang pake motor, jangan lupa dilepas helmnya. Pertama kali masuk nanti akan berjumpa dengan loket parkir. Tarif motor Rp 3.000,00, bayar di akhir waktu mau keluar.

Setelah masuk, saya nanya arah ke gedung samsat. Dan ditunjukkanlah sama bapak-bapak penjaga loket tadi. Petunjuknya cukup sederhana : “Di depan belok kanan mas”. Ok. Setelah saya belok kanan, ternyata ada areal luas. Ini mana gedung samsatnya pikir saya. Sambil berjalan perlahan, saya baca-baca petunjuk arah. Nihil kata samsat (mungkin saya waktu itu kurang konsentrasi, tapi seingat saya memang gak ada kata samsat sih🙂 ). Yasudahlah saya iseng-iseng aja jalan, dan nanya-nanya pak polisi yang banyak di situ. Setelah muter-muter, sampailah saya ke gedung samsat. Saya cari bagian cek fisik kendaraan, ternyata letaknya di bagian belaknag gedung samsat ini.

Sampai sana masih sepi, tapi sudah ada petugas cek fisik yang sudah siap. Saya diarahkan untuk memarkir motor saya di bagian yang sudah disediakan. Saya liat jam, masih sekitar jam setengah 8-an. Yasudah, saya nongkrong di bagian depan loket pengambilan formulir. Jam 8 dia baru buka. Kenyataannya? Jam 8 kurang 5 menit sudah dibuka sodara-sodara. Siapkan uang 20 ribu, dan tunjukkan STNK. Bilang keperluan sampeyan. Kalau saya sih bilang perpanjang. Yang lain ada yang bilang buat ngurus STNK yang hilang, perpanjang juga seperti saya, dll. Setelah itu serahin formulir yang ada stiker geseknya itu ke petugas yang berbaju biru dongker (seperti seragam satpam) dan tunjukkan motor Anda yang mana. Jangan salah tunjuk motor orang!

Hanya butuh waktu 10 menit. Nanti petugas akan mengisi formulir tadi. Nah, sebenernya ini gratis. Tapi kalau baca-baca di artikel, ada yang ngasih duit juga ke petugasnya. Karena saya gak enakan, saya juga kasih uang tip ke bapaknya. 6000 rupiah, karena nyari 5000-an gak ada😐

Berkas 1

Setelah transaksi selesai, bapaknya bilang kalau formulirnya nanti diserahin ke loket 2. Letaknya ya cuman di sekitar situ aja sih. Tapi masalahnya si motor gak boleh parkir di situ. Jadilah saya kendarai motor saya dan parkir di deket warung soto. Padahal harusnya parkir di depan gedung samsat. Ya gimana lagi, wong di situ kosong. Dan kalau harus ke depan jauh euy. Lagian waktu saya parkir, pak polisi di sekitar situ diem-diem aja. Yasudah, enak to😀

Di loket 2 ternyata belum buka. Setelah menunggu barang 5 menitan, pak petugasnya membuka loket 2 ini. Formulir langsung diserahin saja ke bapaknya, dan kemudian duduk manis menunggu panggilan. Yang dipanggil plat nomor kendaraanya lho ya. Bukan yang punya. Walopun kalo sudah dipanggil tapi gak ada yang maju, pak petugas kadang nyebutin juga nama di STNK.

O iya, soal syarat-syaratnya. Saya waktu itu bawa BPKB asli dan STNK asli, beserta fotokopi masing-masing dokumen itu. Tapi kalau buat plat nomor daerah seperti saya, sepertinya fotokopi-fotokopi itu gak dibutuhkan. BPKB pun gak ditanya. Jadi kalau sampeyan dari daerah, mungkin gak usah nunggu dikirim BPKB dari rumah. Langsung aja pake STNK. Buat jaga-jaga gak ada salahnya kalau difotokopi. Soal BPKB ini saya gak yakin lho ya, tapi dari pengalaman kemarin seperti itu.

Setelah dari loket 2 ini, selesai sudah. Sampeyan akan dapat berkas bantuan cek fisik kendaraan, yang jadi syarat buat perpanjang STNK 5 tahunan. Kirim ke rumah, dan tinggal tunggu nanti yang di rumah buat mengurusnya.

Berkas 2

Memenuhi Panggilan Tuhan (Bagian 1)

Baiklah, saya akan coba untuk berbagi cerita mengenai pengalaman saya ketika haji kemarin. Sebagai informasi, saya mengikuti program haji regular dari pemerintah. Saya mendaftar pada tahun 2010, sekitar bulan Oktober. Saya menggunakan produk dana talangan haji dari Bank Muamalat. Saat itu dapat proyeksi keberangkatan sekitar tahun 2014. Namun pada tahun 2014, ada pengurangan jatah kuota haji untuk Indonesia sehingga pemberangkatan saya mundur jadi tahun 2015. Saya berangkat dari embarkasi Solo (SOC), menggunakan pesawat Garuda Indonesia❤ Semoga penjelasan singkat ini cukup untuk menjawab apakah saya menggunakan produk layanan haji Plus atau tidak😀

Mengenai bagaimana pendaftaran haji di bank saya ceritakan secara garis besarnya saja ya. Sudah agak lama, banyak hal yang saya lupa. Hehe. Pertama saya harus menyetor dana awal sebesar lima juta rupiah. Dana itu disimpan dalam rekening tersendiri. Jadi yang mendaftar haji otomatis akan membuka rekening baru di bank tersebut. Saat pendaftaran di bank selesai, saya baru mendapat nomor kursi. Bagaimana agar seseorang dapat nomor kursi? Sejauh yang saya tau, orang tersebut harus menyetor dana sebesar 25 juta rupiah ke Kemenag . Saya sih taunya ya menyetor saja ke bank M tadi dan dia yang mengurus selanjutnya. Kan saya menyetor lima juta doang, kok sudah dapat nomor kursi? Jawabannya karena saya menggunakan jasa dana talangan dari bank M tadi. Jadi kekurangan pembiayaannya ditalangin dulu sama si bank. Kalau biaya jasanya saya juga lupa, tapi seingat saya ada jasa yang harus dibayarkan sekitar 2 juta lebih kepada bank. Untuk lebih jelasnya mending tanya ke bank terkait saja ya kalau sampeyan-sampeyan mau menggunakan jasa yang sama, hehehe. Dan jasa ini tidak hanya ada di bank yang saya sebutkan tadi, di bank lain juga ada, termasuk di bank-bank plat merah.

Bukti setoran awal
Bukti setoran awal

Lalu apa yang saya lakukan dari semenjak pendaftaran hingga pemberangkatan. Kalau bisa dirangkum secara garis besar (daritadi garis besar terus mas😀 ), mungkin akan seperti ini. Tahun 2010 – 2013 adalah saat-saat pelunasan dana talangan yang 25 juta itu. Secara materi ilmu tentang haji sih saya belum mencari tahu. Haha. Maklum, konsentrasi skripsi dan cari kerja. Hehe. Tahun 2014 mulai baca-baca cerita orang yang pergi haji dan lanjut baca-baca buku panduan ibadah haji secara sekilas. Tahun 2015 awal sudah agak gerogi. Apalagi ketika kepastian berangkat sudah keluar. Dari orang tua juga kadang nagih hafalan bacaan ibadah haji. Dan saya sering menghindar. Haha. Baru menjelang ramadhan saya serius mencari tahu tentang ibadah haji (Jangan ditiru!!!). Sumbernya kebanyakan dari buku-buku panduan ibadah haji bekas orang tua dulu, dan buku-buku yang didapat dari KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). O iya mengenai KBIH ini, saya daftar di Wonosobo, yang berjarak 12 jam perjalanan kalau menggunakan bus dari Jakarta. Jadi dari sekian banyak kegiatan manasik setiap minggunya, saya hanya berkesempatan mengikuti beberapa kali saja. Untungnya dari KBIH tersebut sudah membuat jadwal beserta materi tiap pertemuannya, jadi saya bisa menentukan kapan pertemuan yang memang tidak seharusnya saya lewatkan dan mana yang boleh😛 Saya juga cari materi dari Youtube. Yang saya unduh sih video animasi mengenai kegiatan umroh (bagus penggambarannya) , video memakai kain ihrom (saat itu saya masih penasaran gimana biar ihromnya gak melorot, haha), dan video liputan mengenai kegiatan haji.

Persiapan

Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu sebelum keberangkatan :
1. Foto
Jadi saat itu ibu meminta saya untuk pulang karena ada agenda pengambilan foto oleh Kemenag. Saya tanya kalau saya kirim fotonya saja dari Jakarta gimana. Dan ibu menjawab beliau gak yakin bisa. Dan beliau takut kalau nanti ada pengurusan-pengurusan dokumen lain yang tidak bisa diwakilkan. Yasudah, pulanglah saya. Dan ketika hari H, memang selain pengambilan foto ada juga pengumpulan bukti pelunasan haji dan fotokopi paspor bagi yang sudah punya. Biaya 50.000. Sepertinya fotonya untuk kelengkapan dokumen di Kemenag karena di tempat lain saya tidak melihat ada foto saya dengan pose hari itu😀

2. Pemeriksaan kesehatan
Pemeriksaan dilakukan di Puskesmas. Puskesmas mana? Katanya sih bisa di seluruh puskesmas, tak perlu di tempat Anda akan berangkat nantinya. Tapi kalau saya sih tetap di puskesmas daerah tempat tinggal saya. Pemeriksaannya ada macem-macem. Untuk beberapa jama’ah, terutama yang sudah 40 tahun ke atas, ada tambahan pemeriksaan jantung juga. Sedangkan saya cuma periksa kesehatan secara umum, dan dapat nasihat yang umum juga dari Bu dokter : “Mas-nya jarang olah raga ya? Besok coba dirutinkan ya biar sehat di sana”. Wkwkwkwk. Pemeriksaan ini BAYAR yah. Tolong dipersiapkan dananya. Saya habis Rp 98.500,00.

Murah karena periksa yang umum-umum saja
Murah karena periksa yang umum-umum saja

3. Pelunasan biaya haji
Jadi, berapa biaya haji yang harus dibayarkan oleh jama’ah Indonesia? Besarnya ternyata berbeda-beda untuk tiap embarkasi. Saya ikut embarkasi Solo (SOC), dan biaya yang harus saya bayarkan adalah sebesar $ 2678. Kalau dirupiahkan ya ngikut kurs saat itu di bank yang kita pakai. Setelah di-kurs-kan menjadi rupiah, nanti besarnya dipotong simpanan kita yang 25 juta itu. Nah sisa potongan itulah yang harus kita lunasi. Besarnya biaya ini diumumkan kok oleh kementerian agama di websitenya, jadi silahkan dicek saja. Pengumuman ini baru keluar sekitar 2 bulan sebelum pemberangkatan jama’ah kloter pertama. Lagi-lagi saya harus pulang karena perlu tanda tangan waktu pengurusan di bank.

4. Paspor
Pengurusan paspor dilakukan di Dinas Imigrasi. Saya juga harus pulang untuk hal ini. Nah ternyata dokumen-dokumen yang saya kumpulkan saat pengambilan foto (nomor satu di atas) saya temukan lagi di sini. Jadi di dinas Imigrasi ini tinggal foto lagi dan bayar. Nah soal bayar-bayar ini, ada yang bilang sudah termasuk dalam biaya haji. Hanya karena suatu hal, dinas Imigrasi ini belum bisa menarik dananya. Sehingga jama’ah harus bayar menggunakan uang pribadi mereka sendiri. [Update] Biaya pembuatan paspor sudah dikembalikan beberapa hari lalu. Kalau diitung-itung, yah sekitar tiga minggu semenjak kepulangan saya ke tanah air. Sekitar 300 ribu lebih dikit (tariff normal bikin paspor lah pokoknya). Tapi sampai saat ini paspor masih di tahan pihak Kemenag. Entah apa alasannya,,,

Berkas khusus
Berkas khusus

5. Vaksin
Vaksin yang dibutuhkan yaitu vaksin meningitis (MERS) dan sebagai tambahan juga vaksin influenza. Dimana dapatnya? Untuk jama’ah haji, disarankan di puskesmas kota tempat keberangkatan Anda. Ada dua alasan yang menurut saya harus jadi pertimbangan untuk tetap diusahakan di puskesmas yang ditunjuk, dibandingkan ke tempat lain (karena lokasi kerja yang jauh dari rumah misalnya). Pertama, karena pembayarannya dapat potongan sehingga tidak bayar penuh. Potongannya ini sepertinya diambil dari biaya haji yang kita bayarkan ke pemerintah. Yang kedua, pemerintah telah menerbitkan buku kesehatan khusus untuk jama’ah haji, dimana isinya adalah hasil pemeriksaan pada poin nomor dua di atas, dan bagian pencatatan vaksin ini sendiri. Buku ini akan dibawa oleh jama’ah untuk nanti diperiksa oleh otoritas bandara Saudi. Kalo saya sendiri, terpaksa mengambil vaksin tidak di puskesmas yang ditunjuk. Biasalah karena urusan kerjaan. Jadi dokumen vaksin saya kirimkan ke rumah untuk dimasukkan ke buku kesehatan yang ada.

Dokumen vaksin meningitis
Dokumen vaksin meningitis
Dokumen vaksin influensa
Dokumen vaksin influensa

Ada sedikit cerita menarik ketika pembuatan dokumen vaksin ini. Karena saya tinggal di Jakarta, jadilah saya cari info tempat vaksin di sekitar sini. Setelah googling dan tanya-tanya, saya memutuskan untuk suntik vaksin di komplek bandara Halim Perdana Kusuma. Tepatnya di dekat gedung Divisi Teknik. Gedung ini sebelum gedung lobby bandara. Tempat penyuntikannya di bagian belakang (lebih detailnya silahkan baca di sini). Saya berangkat dari kosan ba’da subuh, sampai sana dapet urutan nomor dua. Itu sekitar jam lima pagi. Pelayanan baru dibuka jam tujuh pagi. Sambil menunggu, saya ngobrol-ngobrol saja dengan beberapa peminat juga. Ternyata peminat vaksin itu tidak hanya orang yang akan berangkat umroh / haji saja. Waktu itu ada orang dari Kemenlu juga yang akan tugas ke Afrika. Di sana juga menangani pelayanan untuk vaksin Yellow Fever. O iya, syarat yang dibutuhkan adalah fotokopi paspor 1 lembar dan foto 4×6 1 lembar. Dan kejadian itu terjadilah.

Jadi setelah antrian resmi dibuka, dan masing-masing sudah mendapat nomor antrian dan formulir yang harus diisi, keluarlah seorang ibu-ibu petugas. Beliau dengan ramah menjelaskan tentang pelayanan di kantor itu. Lalu pada satu bagian beliau menjelaskan bahwa kantor ini tidak menerima pelayanan vaksin untuk jama’ah haji. Karena untuk haji harus di puskesmas yang ditunjuk. Hmmm…ya…ya..ya…. Wuapaaah?? Kaget campur bingunglah saya waktu itu. Setelah ibu itu selesai menjelaskan, saya dekati ibu itu. Saya ceritakan keadaan saya. Ibu itu tetep kekeuh bilang bahwa untuk haji tidak di situ tempatnya, tapi di puskesmas. Ibu itu juga menekankan kalau di puskesmas itu gratis (padahal tetep saja kata orang tua saya ada bayar). Waktu itu saya merasa kok ada yang aneh dengan perkataan beliau. Yasudahlah, karena saya gak bisa pulang ke rumah dan sudah terlanjur di situ, saya bilang ke ibunya, kalau saya tetep pengen vaksin gimana? Dan dengan mudahnya ibu itu bilang kalau hal itu boleh-boleh saja, asal bayar sesuai tarif biasa (bukan khusus haji). Dan beliau menambahkan kalau nanti memang untuk haji, ada formulir khusus yang harus diisi. What???? Kenapa gak bilang daritadi kalau emang boleh dan cuman nambah isi formulir doang??? Ishhh. Dan ternyata ada orang lain yang senasib sama saya. Dua orang bapak-bapak dan satu ibu-ibu, yang juga harusnya di Puskesmas Bogor tapi tetep datang kesitu. Ibu itu menjelaskan hal yang sama. Sampai bapak-bapaknya telpon orang kesehatan di Bogor yang katanya menyarankan beliau boleh kalau mau ambil vaksin di situ. Kenapa saya gak samperin bapak-bapak itu trus certain tentang “Formulir Dewa” itu? Tadinya saya pikir ibu petugas akan langsung mengarahkan ke formulir khusus itu. Tetapi ternyata gak. Saya pun sebenernya masih ragu, jadi saya amati saja dan mendengarkan diskusi mereka. Hehe, mohon maap ya pak.

Lembar pertama
Lembar pertama
Lembar kedua (dibalik lembar pertama)
Lembar kedua (dibalik lembar pertama)

Yasudah, sambil menunggu dipanggil, saya menikmati udara pagi itu sambil mendengarkan deru-deru mesin pesawat. Setelah nomor antrian mulai dipanggil, lumayan lega lah saya. Alhamdulillah akhirnya boleh vaksin juga. Biaya untuk vaksin meningitis adalah 305.000 dan vaksin influenza 170.000. Suntik vaksinnya cepet kok, gak sampai 10 menit. Saran saja (sebenernya saran dari ibu petugas yang baik hati dan kadang bikin deg-degan itu tadi sih), setelah dokumen selesai, langsung saja di-fotokopi. Untuk arsip pribadi. Karena meningitis berlaku dua tahun, dan influenza satu tahun. Jadi dalam rentang waktu itu, kalau buku vaksinnya hilang, bisa minta penggantinya dengan menunjukkan fotokopi tersebut, dan tidak perlu vaksin ulang.

Baiklah,,untuk bagian ini, saya rasa cukup sekian saja. Capek nulisnya. Haha. Nanti dilanjut di tulisan berikutnya.

Karena Kata

Karena tak dapat kutemukan
Kata yang paling sepi
Kutelantarkan hati sendiri

Karena tak dapat kuucapkan
Kata yang paling rindu
Kubiarkan hasrat terbelenggu

Karena tak dapat kuungkapkan
Kata yang paling cinta
Kupasrahkan saja dalam do’a

 

Sapardi Djoko Damono