Memenuhi Panggilan Tuhan (Bagian 3)

Akhirnya setelah sekira 12 jam perjalanan, tibalah kami di Bandara Madinah. Alhamdulillah!!! Semakin mendekat ke inti panggilan. Dari cerita paman, rute haji kali ini baru buat beliau. Dulu jama’ah haji diturunkan di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Untuk kemudian baru diangkut ke Madinah atau Makkah, tergantung jatah masing-masing. Bandara ini juga sepertinya baru beberapa tahun ini digunakan. Kami tiba jam 4 waktu setempat. Sambil menunggu antrian cek paspor, kami istirahat sembari piknik kecil-kecilan melihat-lihat isi bandara.

Atas - bawah : Nama Bandara; Duduk menunggu antrian

Hingga tibalah saatnya mengantri untuk cek paspor bagi jama’ah Indonesia. Karena lumayan banyak, antrian pun mengular panjang. Lumayan melelahkan bagi orang tua untuk berdiri dalam jangka waktu lama sembari membawa ‘gembolan’ barang bawaan. Melihat hal ini, paman saya yang kebetulan ketua rombongan sekaligus ketua kloter berinisiatif untuk mendahulukan orang tua-orang tua meskipun antriannya di belakang. Yang membuat lama adalah ada periksa (atau rekam ya, kurang tau saya) sidik jari. Dimana kadang orang harus beberapa kali mengulang menempelkan jarinya ke mesin karena ada masalah. Dan juga jari yang ditempelkan ada beberapa, dari tangan kanan dan kiri pula πŸ˜€

Setelah beberapa lama berjalan, ternyata ada jama’ah yang sepertinya tidak rela kalau antriannya berdasarkan umur, bukan tempat. Jadilah dia sedikit komplain ke paman saya dan setelah berdiskusi beberapa lama, paman saya mempersilahkan untuk antrian sesuai tempat lagi. Karena yang orang tua juga sudah banyak berkurang. Saat bapak-bapak yang komplain tadi maju ke meja periksa, petugas beberapa kali melihat dokumen paspornya. Agak lama dari jama’ah yang lain, ternyata ada kesalahan di stiker yang tertempel di paspor, entah stiker soal apa. Setelah diurus oleh petugas yang ada, selesai jua lah pemeriksaan untuk bapak tadi. Paman saya sempat nyeletuk, “tuh balesan gara-gara tadi gak terima antriannya dilewatin sama orang tua-orang tua” :D. Saya sih hanya senyum-senyum aja.

AntrianBeberapa saat setelah itu, ada juga jama’ah yang nyantol lama di bagian petugas. Sigh,,,apaa lagi ini masalahnya. Eee tiba-tiba muncul bapak-bapak yang komplain ke paman saya itu, menghampiri petugas. Dan menanyakan permasalahannya dengan bahasa Arab yang fasih. Dan seleseai lah perkara. Saya hanya senyum-senyuma aja ke paman saya, haha. Kan sudah dibilangin, gak boleh gampang komentar di negeri ini. Setelah itu alhamdulillah kebanyakan jama’ah lancar-lancar saja. Yang gak lancar justru paman saya yang membantu mengatur antrian orang tua tadi. Dia malah ditahan agak lama di meja petugas. Kebetulan beliau diperiksa paling akhir. Jadilah kami menunggui beliau sampai selesai. Ternyata,, sedari tadi si petugas memperhatikan apa yang dilakukan paman saya. Dan kemudian mengacungkan dua jempol jarinya. Sambil ketawa-ketiwi dan berkata dalam bahasa arab, entah apa yang dikatakan. Intinya sih salut sama inisiatif paman saya tadi. Paman saya yang gak paham bahasa Arab pun ikut ketawa-ketiwi dan bercanda gak jelas sama si petugas. Sampai peluk-pelukan segala. Haha,,sekali lagi. Jangan banyak komentar di sini.

Lepas dari meja petugas, kami keluar dari (sepertinya) bangunan inti bandara, menuju ke bagian yang dikhususkan untuk haji. Lumayan sih jalannya, tapi itung-itung refresinglah lihat-lihat interior bandara yang wow buat kami. Keluar dari bangunan utama, kami langsung diterpa udara gurun yang puanas bingit. Apalagi setelah dari ruangan ber-AC. Untungnya di hall yang diperuntukkan untuk haji ada AC-nya juga. Di hall ini kami hanya duduk-duduk sembari menunggu bus yang akan membawa kami ke Kota Madinah siap.

Menunggu pemberangkatanUntuk jama’ah yang memakai kursi roda, bandara menyediakan petugas yang akan membantu mendorongkan hingga ke hall. Gratis sebenarnya, tapi seperti kebudayaan orang Indonesia pada umumnya, kurang sreg kalo gak ngasih tips. Di hall gak banyak yang dilakukan sih. Karena gak terlalu luas juga bangunannya. Di sini ada toilet dan kran air minum. Nah,,soal kran air ini. Langsung ada yang nyeletuk,,”wah zam-zam. Buruan ambil”, haha. Padahal gak semua kran air minum itu isinya air zam-zam sih. Cuma sugestinya orang Indonesia kalau sudah sampai di Madinah atau Makah pasti menganggap kran air yang ada isinya selalu air zam-zam πŸ™‚

Kini bus-bus sudah siap. Tas tenteng juga sudah ditempatkan di bagasi. Untuk tas koper, memang tidak berbarengan dengan bus jama’ah. Akan diangkut menggunakan truk terpisah. Setelah dipersilahkan oleh petugas untuk memasuki bus, jama’ah mulai bergerak naik. Ternyata kursi di bus lebih sedikit dari jumlah jama’ah yang diangkut. Jadilah beberapa diantara jama’ah laki-laki harus rela berdiri, sedangkan jama’ah wanita semuanya mendapat tempat duduk.

Searah Jarum Jam dari kiri atas : Bus-bus yang siap berangkat; Suasana di dalam bus (1); Suasana di dalam bus (2); Petugas yang mengaturBus mulai bergerak meninggalkan bandara, dengan tujuan kompleks Masjid Nabawi. Perjalan memakan waktu sekitar 2 jam singat saya. Lumayan juga berdiri sebegitu lama πŸ˜€ Namun semuanya berganti denganΒ  rasa bahagia kembali, ketika dari jauh mulai nampak menara-menara masjid Nabawi. Dan kebetulan saat memasuki kota Madinah sudah memasuki malam. Jadilah pendar cahaya kompleks Masjid Nabawi terlihat dari jauh. Subhanallah,,orang pasti akan terkagum melihat tempat ini.

Namun rasa ingin segera mendekati cahaya itu harus tertahan beberapa waktu.Β  Setelah tiba di hotel, kesibukan pertama adalah mencari tas koper yang sudah sampai. Jadi, kan tadi tas kopernya diberangkatkan terpisah. Ketika sampai hotel, petugas pun hanya menaikkan koper dari lantai bawah ke lantai yang diperkirakan rombongan yang dimaksud menginap. Kok gitu? Iya. Misal untuk lantai 1 sampai 3, dihuni oleh rombongan dari Jawa Tengah. Maka koper-koper dengan identitas rombongan Jawa Tengah akan diletakkan di lantai 1 atau lantai 2 atau lantai 3. Jika Anda tinggal di lantai 1, maka kemungkinan koper Anda berada di lantai tempat Anda tinggal adalah 25 %, bahkan bisa lebih kecil lagi. Karena bisa jadi kopernya masih di lantai bawah, lantai 2, lantai 3 atau lantai lainnya πŸ˜€ Jadilah waktu itu kami riweuh nyari koper-koper yang bertebaran entah dimana itu. Kami sekeluarga bagi tugas. Yang wanita disuruh nunggu saja di kamar, yang laki-laki blusukan naik turun nyari kopernya. Dan ketika ketemu, karena liftnya penuh oleh jama’ah lain yang juga blusukan, kami pun harus naik lewat tangga darurat. Dan itu berat jenderalll. Untung dapat kamar di lantai 6. Lumayan lah dibandingkan yang ada di lantai 9.

Mencari KoperLumayan lama lho drama nyari-nyari koper ini. Apalagi karena belum hafal lingkungan hotel, jadi kadang ada koridor yang belum dilewati, padahal kopernya ada di situ. Setelah beres dengan urusan koper, acara selanjutnya adalah makan malam. Alhamdulillah sudah ada jatah makan malam dari pemerintah. Lauknya saat itu ikan tongkol (?) dan sayur buncis. Ternyata mitos kalo di sini makan daging pasti porsinya gede-gede itu benar adanya. Daging ikan yang kami dapat termasuk besar untuk ukuran orang Indonesia. Tapi rasanya hambar. Jadilah kami mengeluarkan jurus abon dan bawang goreng πŸ˜€ Paket makan yang diberi pasti terdiri dari makan besar, buah, dan minuman. Sehat lah pokoknya. Lauk, jenis buah, dan jenis minuman akan selalu bervariasi. Variasinya gak banyak sih, sekitar tiga lah. Jadi ya variasinya muter-muter di tiga jenis itu saja πŸ˜€

Jatah makanSetelah istirahat sebentar kemudian mandi, seorang paman saya mengajaki untuk nengok Masjid Nabawi malam itu juga. Walaupun agak ngantuk, tapi rasa penasaran ini lebih kuat. Jadilah saya berangkat bertiga dengan sepupu saya. Hmm,,gimana kesan pertama kali melihat Masjid Nabawi? Nanti saya ceritakan di bagian berikutnya saja ya, hehe. Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s